Jumat, 31 Juli 2015

Cara Membuat Bakso Jamur Yang Super Enak

Jika menu bakso pada umumnya terbuat dari campuran daging sapi dan tepung sagu, kini sebagian besar masyarakat mulai memanfaatkan jamur segar sebagai pengganti daging dalam pembuatan bakso. Inovasi ini dipilih para pelaku usaha karena pada dasarnya jamur memiliki tekstur yang hampir sama dengan daging. Dan ternyata pilihan mereka sangatlah tepat, cita rasa bakso jamur tidak kalah enak dengan bakso daging sapi. Sehingga banyak masyarakat yang akhirnya mengangkat produk bakso jamur ini menjadi sebuah peluang usaha yang cukup menjanjikan.
Seiring meningkatnya minat konsumen akan aneka olahan jamur, saat ini keberadaan menu bakso jamur juga sudah mulai dikenal luas oleh masyarakat di berbagai daerah. Beberapa pengusaha bakso jamur bahkan sudah bisa sukses menjalankan bisnisnya di daerah masing-masing. Sebut saja Roni seorang pedagang bakso jamur di Yogyakarta, beliau telah berhasil menarik minat konsumennya dengan menawarkan bakso jamur kuping dengan kuah bumbu rempah. Selain itu ada juga Kedai Bakso Jamur Radin yang berlokasi di Malang, setiap bulannya kedai bakso tersebut mampu meraup omset hingga 30 juta rupiah melalui inovasi bakso jamur tiram yang ditawarkannya kepada masyarakat. Kondisi ini menjadi bukti nyata bagi kita, bahwa aneka makanan olahan jamur mulai mendapatkan tempat tersendiri di hati para konsumen.
Nah, untuk membantu Anda yang tertarik menekuni bisnis bakso jamur. Berikut ini kami informasikan resep pembuatan bakso jamur tiram, yang bisa Anda praktekan di rumah sebelum akhirnya mengangkat produk tersebut sebagai sebuah usaha.
Resep Bakso Jamur Tiram
bakso jamur
Bahan :
- 500 gram kaki jamur tiram
- 1 butir putih telur
- 1 ons tepung sagu
- Garam (secukupnya)
- Lada (secukupnya)
- Minyak barbeque (secukupnya)

Bahan kuah : 
- 4 siung bawang merah
- 3 siung bawang putih
- 2 batang daun bawang
- Garam dan lada (secukupnya)

Bahan pelengkap :
- Bawang goreng
- Mie kuning
- Daun sledri
- Saus sambal
- Kecap manis

Cara membuat :

1. Bakso Jamur 
- Haluskan/blender batang jamur dan peras airnya (buang)
- Tambahkan putih telur, aduk rata
- Masukan tepung sagu, garam, lada dan minyak barbeque, aduk rata
- Setelah semua adonan menyatu, buat bulat-bulat kecil menjadi bentuk bakso. 

2. Kuah 
- Masak air dalam panci
- Haluskan bawang merah, bawang putih, dan daun bawang
- Masukan dalam air rebusan
- Tambahkan garam dan lada secukupnya. Biarkan mendidih
- Masukan bakso jamur yang sudah dibentuk. Didihkan.
- Sajikan selagi hangat bersama bahan pelengkap.
Dengan memanfaatkan tekstur jamur yang sangat mirip dengan daging, maka tidaklah mustahil bila Anda menjadikannya sebagai alternatif tepat dalam pembuatan produk bakso. Semoga informasi cara membuat bakso jamur ini bisa bermanfaat bagi para pembaca, dan bisa menjadi inspirasi bisnis bagi Anda yang sedang bingung mencari peluang usaha. Mulailah dari yang kecil, mulai dari yang mudah, mulai dari sekarang. Ayo berbisnis jamur !!
Sumber gambar : Bisnis UKM

DENDENG CUMI, OLAHAN HASIL LAUT KHAS BALI


Dendeng Cumi Olahan Hasil Laut
Cumi – cumi merupakan salah satu hewan yang tidak bertulang belakang dengan bentuk tubuh silinder kerucut memanjang dan warna dasar bening kaca transparan. Selain itu cumi-cumi juga bersifat kamuflase terhadap area tertentu dengan perubahan warna – warna lainnya. Cumi-cumi  mempunyai 3 jenis keluarga yaitu cumi-cumi sotong, cumi-cumi karang dan cumi-cumi blakutak.
Cumi – cumi sotong adalah salah satu jenis cumi-cumi yang paling banyak disukai karena cita rasa dagingnya paling lezat. Cumi-cumi ini banyak dipakai sebagai olahan hasil laut yang khas terutama saat panen berlimpah. Olahan hasil laut dengan bahan dasar cumi-cumi yang paling khas adalah dendeng cumi.
Dendeng adalah makanan kering sebagai salah satu produk awetan yang diolah secara tradisional hingga modern dan sangat populer di masyarakat Indonesia. Lembaran daging cumi-cumi diberi campuran gula, garam, dan bumbu-bumbu lain kemudian dikeringkan. Selain rasanya yang gurih dan lezat, dendeng cumi-cumi juga merupakan makanan tradisional yang kaya akan kandungan gizi seperti protein, mineral, kalsium, fosfor dan besi serta memiliki kelebihan yaitu masa simpannya lebih lama dibandingkan dengan dendeng dari daging ternak seperti sapi.
Dendeng cumi merupakan hasil olahan olahan laut yang cukup banyak memiliki penggemar sehingga mudah diperjual belikan di pasar tradisional, supermarket atau penjualan dengan sistem online. Para nelayan juga suka menangkap cumi-cumi karena habitat hidup mereka sangat mudah sehingga para nelayan selalu panen besar. Disamping habitat hidupnya yang mudah, harga jual cumi-cumi cukup mahal di sepanjang masa panen mereka, Hal inilah yang menjadikannya sebagai salah satu hasil laut yang patut untuk diperhitungkan sebagai komoditi menjanjikan untuk diolah menjadi aneka olahan hasil laut yang khas.
Strategi Pemasaran
Di pasaran Indonesia selain banyak beredar dendeng sapi, dendeng bekicot atau keong mas, dendeng udang dan ikan laut, dewasa ini masyarakat juga mulai menggemari olahan hasil laut khas lainnya berupa dendeng cumi. Karena animo masyarakat cukup tinggi terhadap olahan makanan ini. Mudahnya melakukan pemasaran seperti di pasar tradisional, supermarket, penjualan online dengan bantuan internet menjadikan dendeng cumi tumbuh sebagai bisnis yang menjanjikan.
Target pasar untuk para konsumen dari turis asing, strategi pemasaran masih menggunakan cara sederhana yaitu dengan menitipkan hasil olahan laut tersebut di toko-toko makanan, restoran, dan art shop yang berlokasi di pusat-pusat area wisata Bali yang dirasa cukup ramai pengunjung terutama oleh para turis mancanegara. Harapan pelaku usaha dengan strategi pemasaran tersebut adalah agar para turis mancanegara mau membeli dendeng cumi sebagai oleh-oleh olahan hasil laut khas dari pulau Bali.
Proses Produksi
Pelaku usaha kecil mandiri yang menekuni pembuatan dendeng cumi di pulau Bali akan banyak dijumpai didaerah pantai yang mayoritas penduduknya adalah nelayan, diantaranya seperti daerah Badung, Buleleng dan Karangasem.
Umumnya, proses pembuatan dendeng cumi-cumi ini masih sangat sederhana dengan cara tradisional. Pertimbangannya, agar cita rasa yang dihasilkan lebih khas, lebih gurih dan daya tahan dari dendeng cumi-cumi lebih tahan lama dan lebih awet. Bumbu-bumbu yang dipergunakan untuk membuat dendeng cumi-cumi ini adalah lengkuas, ketumbar, bawang merah, lada dan bawang putih. Untuk rasa dendeng cumi manis atau manis pedas biasanya ditambahkan dengan bubuk cabe atau merica, gula dan garam.
Gula kelapa dan jenis rempah-rempah lainnya biasanya ditambahkan dalam membuat dendeng cumi-cumi tujuannya sebagai bumbu penyedap tambahan dengan fungsi memberikan rasa lebih unik atau sifat flavor yang khas Bali. Jenis dendeng cumi-cumi yang dibuat biasanya ada 3 jenis yaitu dendeng kering, dendeng semi basah dan dendeng basah yang semuanya itu diolah menggunakan cara tradisional seperti pemmican, biltong, dan jerky ala dendeng Australia.
Bagi Anda yang tertarik dan berniat untuk menekuni bisnis olahan hasil laut berupa dendeng cumi, sebaiknya Anda mempelajari bebarapa hal penting dalam pembuatan dendeng cumi. Pelajari hal penting mulai dari pemilihan daging cumi, teknik pembumbuan hingga teknik pengeringan yang tepat. Dengan proses pembuatan yang benar bertujuan agar cita rasa dendeng yang lezat dan gurih bisa diperoleh, selain itu juga akan menghasilkan dendeng cumi dengan kualitas yang sempurna. Jika kualitas produk yang bagus didukung dengankemasan produk yang menarik pastinya olahan hasil laut tersebut akan sangat laku dipasaran.
Kendala Bisnis
Meskipun dendeng cumi termasuk bisnis olahan hasil laut yang khas dengan pemasaranyang relatif mudah, namun setiap usaha pasti akan menjumpai kendala baik berat ataupun tidak. Salah satu kendala yang sering dihadapi oleh pelaku bisnis dendeng cumi ini adalah ketika musim penghujan tiba. Saat musim hujan, pelaku usaha dendeng cumi tentunya akan mengalami kesulitan pada saat proses pengeringan sehingga kecepatan proses produksi pengeringan menjadi berkurang.
Cuaca buruk yang berkepanjangan juga menjadi kendala lain dalam pembuatan dendeng cumi karena nelayan jarang turun ke laut untuk menangkap cumi-cumi sehingga bahan baku tidak dapat terpenuhi dengan baik. Namun, janganlah takut untuk memulainya. Jadikan kendala bisnis sebagai sebuah tantangan tersendiri yang dapat terlewati dengan kesungguhan dan ketekunan Anda dalam menjalaninya. (/Nila)
Kontributor BisnisUKM Daerah Bali
Sumber : Bisnis UKM

BISNIS CAMILAN PEYEK KEDELAI, OMZETNYA CAPAI JUTAAN RUPIAH

rempeyek kedelai

Bisnis aneka macam makanan ringan memang menjanjikan keuntungan yang cukup besar. Salah satunya saja seperti camilan peyek yang dari dulu hingga sekarang masih digemari para konsumen. Rempeyek atau yang lebih akrab disebut peyek merupakan sejenis makanan ringan dari kelompok gorengan yang dibuat dari adonan tepung beras dengan beragam jenis toping di atasnya.
Toping atau pengisi yang sering digunakan para pelaku usaha untuk melengkapi gurihnya rasa peyek pun sangat beragam. Diantaranya ada kacang tanah, kacang kedelai, kacang tolo, kacang hijau, ikan teri, ebi, udang kecil, jingking, laron, rebon, serta toping lombok ijo yang belakangan ini mulai marak beredar di kalangan masyarakat luas.
Dari beragam jenis rempeyek yang beredar di pasaran, camilan peyek kedelai merupakan satu dari sekian banyak peyek yang digemari banyak konsumen. Tak hanya citarasa dan renyahnya saja yang membuat konsumen ketagihan, camilan peyek ternyata juga mendatangkan keuntungan cukup besar bagi para pelakunya. Contohnya saja seperti toko camilan “Dianita” yang dibangun oleh Runi bersama sang suami yang bernama Sugiarto di Desa Kalijati Barat, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang.
Selain menawarkan beragam jenis makanan ringan, Runi dan suaminya rutin memproduksicamilan peyek yang selalu ramai diserbu oleh para pelanggan. Dengan menambahkan ciri khas aroma daun jeruk pada camilan peyek yang Ia produksi, setiap harinya camilan tersebut yang paling laris diborong para pelanggan. Dikemas dengan plastik ukuran 250 gram sampai 500 gram, beragam jenis camilan di tokonya dibandrol dengan kisaran harga mulai dari Rp 5.000,00 sampai Rp 16.000,00.
Dari toko camilan yang Ia rintis, saat weekend ataupun musim liburan Runi mengaku bisa mengantongi omzet sekitar Rp 2.000.000,00 sampai Rp 3.000.000,00 dalam sehari. Bisa Anda bayangkan bukan seberapa besar omzet bisnis camilan tersebut dalam sebulan?
Nah, untuk membantu para pemula yang tertarik terjun menekuni bisnis aneka camilan. Pada kesempatan kali ini akan kami informasikan pula resep membuat peyek kedelai yang bisa Anda praktekan untuk mengikuti jejak kesuksesan bisnis camilan peyek kedelai, omzetnya capai jutaan rupiah.

Resep Peyek Kedelai

rempeyek kedelai
rempeyek kedelai
Bahan:
  • 250 gram kacang kedelai
  • 500 gram tepung beras
  • 500 ml santan encer
  • ½ sdt air kapur sirih
  • 2 butir telur ayam, kocok lepas
  • 5 lembar daun jeruk, iris halus
  • 1liter minyak untuk mengoreng
Bumbu yang dihaluskan :
  • 7 siung bawang putih
  • 5 butir kemiri
  • 1sdt ketumbar
  • ½ cm kunyit
  • 1sdt garam
  • ½ sdt penyedap rasa
Cara Membuat :
  1. Langkah pertama yang perlu Anda lakukan yaitu merendam kacang kedelai dalam air dingin selama minimal 2 jam hingga kacang mulai lunak. Kemudian tiriskan.
  2. Berikutnya aduk bumbu yang sudah dihaluskan, dengan tepung beras, santan, air kapur sirih dan telur hingga rata.
  3. Tambahkan kacang kedelai dan daun jeruk, aduk rata.
  4. Panaskan 1 liter minyak di dalam wajan besi.
  5. Ambil sesendok sayur adonan rempeyek kedelai, tuangkan ke pinggir wajan hingga melebar.
  6. Siram gorengan peyek dengan minyak dan lanjutkan menggoreng hingga rempeyek matang dan kekuningan.
  7. Angkat dan tiriskan hingga dingin.
  8. Simpan dalam wadah kedap udara, untuk ukuran kemasan 1 kg.
Selamat mencoba dan salam sukses!
Sumber : Bisnis UKM

Senin, 25 Mei 2015

Usaha Bakso Bakar Pak Karim, Modal Sedikit Untung Lumayan


Pak Karim sedang membakar bakso

Jepara – Kerja tidak harus jadi pegawai atau karyawan usaha sendiri lebih nyaman. Itulah yang sekarang dijalankan oleh pak Karim warga desa Kuanyar kecamatan Mayong. Berbekal uang tidak lebih dari satu juta rupiah ia kini berjualan bakso , roti dan sosis bakar. Dia berkeliling dari satu ke desa lainnya dalam rombongan pasar malam.

“ Dulu saya jualan Mie ayam dan Bakso , tetapi sejak dua tahun terakhir ini saya jualan bakso ,roti,sosis bakar. Selain modalnya lebih kecil juga saat ini dagangan ini cukup laris “, ujar pak Karim pada kabarseputarmuria.com di arena pasar malam lapangan desa Kedungmutih.

Karim mengatakan , cara pembuatan bakso bakar ini cukup mudah . Bahannya tepung dicampur sedikit daging dan bumbu. Setelah semua bahan di jadikan satu selanjutnya adonan dibentuk gelondongan di air panas. Setelah naik kemudian ditiriskan dan diberi potongan sapu lidi untuk pegangan.

Cara penyajiannya gelondongan bakso dibakar lebih dahulu dengan diolesi mentega. Pemanasan selama satu menit atau gelondongan berbau harum. Setelah diangkat gelondongan dimasukkan dalam plastic . Selanjutnya diberi saos , sambal dan juga kecap sesuai dengan keinginan pembeli.

Bakso dan sosis


“ Untuk harganya perbiji Rp 1.000,- , baik bakso, sosis, atau roti. Pembeli biasanya sekali beli paling sedikit tiga sampai lima biji. Nah jika ada pembeli yang beli lebih dari lima biji saja kasih bonus satu “, ujar Pak Karim.

Jualan di arena pasar malam menurut pak Karim waktunya cukup singkat. Dalam sehari hanya butuh waktu 4 jam saja. Ia berangkat dari rumah Kuanyar  usai salat Ashar . Sampai di tempat sekitar pukul 5 sore dan pasar malam usai biasnya antara jam 9 sampai jam 10 malam.

“ Ya yang namanya jualan kadang sepi kadang ramai . Kalau sedang ramai dagangan habis semuanya keuntungan bersih bisa nyampai Rp 100 ribu lebih. Tetapi jika kondisi biasa ya bisa dapat Rp 50 ribu – Rp 60 ribu bersih “, tambah Pak Karim

Usaha penjualan Bakso, Roti, Sosis bakar ini menurut pak Karim masih prospektif untuk dikembangkan. Oleh karena itu bagi yang belum punya pekerjaan atau ingin mencoba usaha baru bisa menjalankan usaha ini. Selain modal yang dibutuhkan tidak begitu banyak pangsa pasarnya juga mudah didapatkan.

Modal harian hanya butuh sekitar Rp 200 ribu untuk membuat gelondongan bakso, beli roti atau sosis. Sedangkan untuk modal investasi sekitar satu juta rupiah diantaranya untuk membuat gerobag, kompor , peralatan masak dan juga banner. Pemasarannya cukup mudah bisa mangkal di tempat ramai . Keliling dengan sepeda atau sepeda motor atau mengikuti acara pasar malam seperti dirinya.

“ Ya disini tinggal lima hari , setelah dari sini nanti pindah ke daerah Welahan. Istri saya juga jualan seperti ini saat ini sedang mremo di Kudus dalam rangka dhandhangan “, tutur pak Karim menutup sua. (Muin)

Minggu, 19 April 2015

Mencari Rejeki Harian di Comberan Meski Bau Tak Dihiraukan



Pak Maskuri

Jepara  - Bagi Pak Maskuri warga desa Pecangaan Wetan Jepara comberan atau selokan merupakan tempat mencari rezeki. Dari comberan itulah dia bisa dapat uang dan menafkahi keluarganya. Meski kadang menimbulkan bau yang tidak sedap . Pekerjaan ini dijalani dengan senang hati.

“ Habis gimana lagi cacing sutra ini hidupnya di selokan atau comberan seperti ini meski harus bergelut dengan lumpur dan bau tak sedap ya jalani saja “, aku Pak Maskuri .

Dengan membawa alat serok yang terbuat dari waring dan wadah dari jrigen bekas. Pak Maskuri menyusuri selokan mulai dari desa Karang Randu sampai dengan desa Pecangaan Wetan. Dari rumahnyanya ia ngonthel sepeda berjarak 2 Km dari rumahnya.

Cacing sutra menurut Pak Maskuri di cari oleh pembibit Lele . Cacing halus berwarna merah ini bagus untuk pakan anak lele yang baru menetas.Oleh karena itu yang mencari cacing ini tidak hanya warga Jepara . Pembibit lele luar kota juga mencari cacing ini.

Kalau saya sudah punya pembeli langganan dari daerah Pati. Jika di rumah sudah ada simpanan banyak saya tinggal SMS saja. Bakul cacing sutra  itu datang ke rumah saya tinggal takar dan bayar secara kontan. Selain dia beberapa tetangganya juga mencari cacing sutra ini.

Cacing Sutera

“ Untuk hasilnya ya tidak menentu tergantung pemburuan di selokan dan comberan. Saat ini harganya satu takar gelas besar Rp 5 ribu . Satu hari kadang dapat 3 sampai 5 gelas “, kata pak Maskuri.

Selokan atau comberan di sekitar desa Pecangaan Wetan memang cocok untuk hidup cacing sutra ini. Air yang kotor dan bercampur limbah dari tahu dan tempe memang tempatnya cacing sutra hidup. Sehingga satu alur ada 3 – 4 orang yang berburu cacing sutra ini.

Berburu cacing sutra ini menurut pak Maskuri harus tahan bau . Di sepanjang alur selokan ini berbagai macam sampah ditemukan. Selain sampah dari rumah tangga juga sampah dari home industry. Namun karena sudah terbiasa meski berbau tidak sedap tidak jadi masalah.

“ Yang penting dapat cacing sutra banyak saya sudah senang itu berarti ada pemasukan uang untuk belanja keluarga sehari-hari ‘, tambahnya.

Bagi pak Maskuri  bau tak sedap comberan menjadi teman kesehariannya. Setiap hari ia jalani pekerjaan dengan senang hati . Apapun kata orang ia tak hirauakan dengan niat bekerja untuk memenuhi kebutuhan harian . Dari hasil blusukan di comberan itu iapun bisa menghidupi keluarganya meski dengan hidup sederhana. (Muin)





Yuk Ikuti Pemuda Ini Ternak Lele Sangkuriang Beromzet Ratusan Juta Rupiah



Fauzan Hangriawan
TRIBUNNEWS.COM - Berani mencoba alias tidak takut gagal adalah prinsip yang mengantarkan Fauzan Hangriawan sukses menjadi pengusaha lele sangkuriang di Jakarta.
Dengan modal terbilang mini, pemilik Sylva Farm Bangun Bangsa ini berhasil mengembangkan bisnis lele hingga meraup omzet ratusan juta sebulan..
Pria kelahiran Pontianak 26 tahun silam ini memang doyan berbisnis sejak masih remaja. Ketika duduk di bangku SMP di Lampung, Fauzan kerap membantu orang tuanya berjualan kelapa dan beras. Lalu, sejak SMA, dia memberanikan diri membuka bisnis sendiri. Mulai dari berjualan sepatu, kuliner, hingga usaha percetakan, dilakoninya.
Meski bisnis itu tidak pernah bertahan lama, Fauzan tidak kapok mencoba. Pada 2009, pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Atmajaya, Jakarta, ini kembali mencoba bisnis baru yang belum pernah digeluti sebelumnya, yakni membudidayakan lele.
"Pengetahuannya saya tentang budidaya lele sangat terbatas waktu itu. Tapi, saya bertekad mencobanya," ceritanya.
Bermodal Rp 1,5 juta dari kocek sendiri, dia membelanjakan 1.000 bibit lele dumbo, pakan lele, dan terpal untuk pembuatan kolam di belakang rumah.
Lantaran, belum tahu banyak soal budidaya lele, tingkat kematian lele sangat besar. Ketika itu, hanya 40% bibit lele yang mampu bertahan.
Meski begitu, selang tiga bulan, Fauzan berhasil menikmati hasil panen pertamanya sebanyak 40 kg lele. Melihat hasil yang cukup menggiurkan, Fauzan memutuskan untuk serius menggeluti budidaya lele sangkuriang. Tak heran, dia belajar lebih mendalam soal budidaya lele.
Apalagi, kata Fauzan, kala itu, lele sangkuriang merupakan varietas yang unggul. Bahkan, hasil riset pemerintah yang ia baca menyebutkan, masa panen jenis lele ini lebih cepat, yakni hanya dua bulan.
Daya tahan terhadap penyakit dan perubahan suhu pun lebih baik dibandingkan jenis lain, seperti lele dumbo.
Fauzan tidak sendiri mengembangkan bisnis lele sangkuriang. Selain mempekerjakan delapan karyawan, dia juga bermitra dengan 30 petani binaan di Jakarta dan Bogor melalui sistem kolam plasma. "Saya mendampingi mereka, sehingga hasil panen bisa maksimal,รข€ ujarnya.
Kini, dalam sebulan, Sylva Farm bisa memproduksi 600.000 ekor bibit lele. Harga bibit ditentukan berdasar ukuran. Misal, bibit berukuran 5-6 centimeter (cm) dibanderol Rp 160 per bibit. Sementara, bibit ukuran 7-8 cm dijual Rp 200 per bibit.
Tak hanya itu, saban hari, Fauzan juga memproduksi 3- 4 kuintal lele berukuran siap konsumsi seharga Rp 17.000 per kilogram.
Jadi, saban bulan, dia bisa mengantongi omzet sekitar Rp 200 juta. Pelanggannya tak hanya tersebar di wilayah Indonesia, tapi juga dari Bangladesh dan Malaysia.  (Marantina)
Sumber : TRIBUN



Kamis, 09 April 2015

Bertahan Hidup Dengan Jualan di Emperan Sekolah


Demak – Bagi mbah Tianah (65)  warga desa Kedungmutih RT 12 RW 1 desa Kedungmutih kecamatan Wedung  hidup itu harus dijalani dengan senang hati. Meskipun setiap hari harus kepanasan dan kehujanan namun hal itu tidak dihirauakan asalkan setiap hari bisa mendapatkan uang untuk belanja sehari-hari. Jika tidak keluar rumah berjualan bisa-bisa ia kelaparan karena tak ada beras yang di masak.

“ Saya jualan kayak begini sudah lebih 25  tahun , semenjak saya ditinggalkan suami sayapun kerja jualan makanan seperti ini . Pada waktu itu anak-anak saya masih kecil sekarang sudah berumah tangga semua “, ujar Mbah Tianah pada kabarseputarmuria.com

Dengan berbekal meja bambu sederhana ia membuka lapaknya di emperan MI ( Madrasah Ibtidaiyah ) Ribhul Ulum Kedungmutih. Dagangannya berupa makanan kecil berbagai macam . Seperti roti , manisan , minuman sachet dan juga sosis. Dagangan ia  beli dari pasar desa tidak jauh dari rumahnya.

Peralatan jualan juga ia siapkan setiap hari dengan kereta dorong kecil ia membawa kompor dan tabung gas. Termos air dan beberapa ember plastic untuk meramu makanan kecil untuk anak-anak sekolah. Meskipun jualan di emperan ia memperhatikan kebersihan dan kesehatan.  Untuk air minum ia gunakan air matang , begitu juga minyak untuk menggoreng sosis juga selalu diganti.

Mbah Tianah melayani anak-anak

“ Untung dikit tidak mengapa yang penting makanan yang saya jual sehat. Sehingga saya kalau kulakan selalu berhati-hati memilih makanan yang saya jual. Alhamdulillah selama puluhan tahun lancar-lancar saja “, aku Mbah Tianah dengan jujur.

Dari jualan makanan kecil ini mbah Tianah mengaku bersyukur, meski tidak berlebihan hasilnya. Namun setiap hari bisa mencukupi kebutuhan makan sehari-hari. Selain itu juga bisa memberi jajan cucunya yang sudah mencapai puluhan. Oleh karena itu jika tubuhnya sehat setiap hari ia keluar rumah mencari nafkah.

“ Jam 12 an nanti saya pulang untuk makan dan istrirahat , sekitar jam 2 siang nanti keluar lagi dan mangkal dekat kolam desa sana . Pulang ke  rumah lagi nanti menjelang maghrib “, kata Mbah Tianah lagi.

Saat ini mbah Tianah tinggal sendiri di rumahnya yang sederhana. Penghasilannya sehari-hari hanya cukup  untuk makan saja. Oleh karena itu kondisi rumahnya cukup memprihatinkan . Selain berdinding bamboo lantainya juga masih berupa tanah liat. Jika musim hujan tiba lantainya licin karena air hujan yang masuk.

Ia berharap ada program bantuan bedah rumah dari pemerintah. Beberapa tetangganya ada yang sudah mendapatkan bantuan bedah rumah. Padahal kondisi rumahnya cukup memprihatinkan . Namun oleh aparat pemerintahan desanya tidak ada perhatian sehingga iapun terlewatkan oleh program bedah rumah. (Muin)